Meski telah berusia lebih dari 134 tahun, rumah tua yang terletak di Dusun Dirgo, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, tersebut masih berdiri kokoh. Beberapa sudut bangunan terlihat baru saja direnovasi, namun tidak meninggalkan bentuk aslinya.

Warga desa setempat menyebut rumah tua itu dengan "Kanjengan", yakni rumah kediaman dr Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat, sang pahlawan bangsa yang terlupakan.

Saat berkunjung ke Kanjengan, ANTARA disambut oleh sang juru kunci yang bernama Sagimin. Sagimin merupakan keturunan kedua dari juru kunci sebelumnya, ayah mertuanya Japar, yang digantikan sejak tahun 1992.

Untuk memasuki kawasan bangunan Kanjengan, para pengunjung akan melewati sebuah gerbang yang besar. Pada gerbang itu terdapat tulisan "Situs Radjiman Wedyodiningrat". Setelah itu, pengunjung akan melewati jalan sepanjang 500 meter untuk menuju bangunan utama Kanjengan.

Bangunan utama Kanjengan sangat sederhana. Nuansa perpaduan arisitektur Jawa dan Belanda sangat terasa pada bangunan tersebut. Langit-langit ruangannya yang tinggi, demikian juga model pada daun pintu dan jendelanya. Hawa dingin langsung terasa saat memasuki ruangan demi ruangan di dalam Kanjengan.

Tak disangka, puluhan tahun lalu, di bangunan ini hidup seorang tokoh yang mempunyai andil besar dalam sejarah perkembangan Bangsa Indonesia. Keberadaannya yang tak banyak dikenal, seakan ikut sirna bersama berlalunya waktu.

Hanya foto-foto yang terpajang di dinding Kanjengan itulah, yang menjadi saksi bisu bahwa Radjiman memiliki peran penting bagi Bangsa Indonesia. Dan juga memiliki hubungan yang dekat dengan Ir Soekarno, Presiden RI yang pertama.

"Hampir semua perabotan yang ada di Kanjengan asli peninggalan dari dr Radjiman. Pihak keluarga sengaja mempertahankannya karena kediaman ini akan menjadi situs sejarah," ujar Sagimin.

Mulai dari meja, kursi, almari, tempat tidur, meja rias, dan sejumlah perabotan lainnya, masih asli. Sudah menjadi tugas Sagimin untuk membersihkan perabotan tersebut agar tetap bersih dan tidak rusak.

"Meski dr Radjiman dimakamkan di Yogyakarta, keluarga tetap berkunjung kemari. Biasanya berkunjung ke sini pada bulan Ruwah penanggalan Jawa untuk berziarah," kata Sagimin.

Di Kanjengan, dulunya dr Radjiman hidup bersama dua istri dan tiga orang anaknya. Selama masa hidupnya, dr Radjiman memiliki lima orang istri, empat merupakan warga Indonesia dan satu lainnya warga Belanda. Dari kelima istri tersebut, ia memiliki tiga anak dari istri yang berbeda.

"Dr Rajiman mulai pindah ke Dirgo dan menempati rumah ini pada tahun 1938. Bahkan beliau tutup usia juga di rumah ini pada tahun 1952," kata Sagimin.

Nama dr Radjiman Wedyodiningrat memang tidak seterkenal Pangeran Diponegoro ataupun Panglima Sudirman di telinga masyarakat umum. Demikian juga namanya tak sefenomenal Bung Karno ataupun Bung Hatta. Namun, kiprah dan jasanya sangat besar, terlebih saat-saat menjelang Indonesia merdeka.

Dr Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat, lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879. Ia berasal dari keluarga rakyat biasa. Bapaknya, Sutodrono, hanya seorang penjaga sebuah toko kecil di Yogyakarta.

Meski berasal dari keluarga rakyat kecil, Radjiman tak patah semangat untuk mengenyam pendidikan hingga berhasil menjadi dokter. Gelar dokter yang diperolehnya di negeri Belanda telah membuatnya memiliki kedudukan yang sejajar dengan para dokter bangsa Belanda. Sedangkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung diberikan oleh Kesultanan Yogyakarta kepada Radjiman Wedyodiningrat atas jasanya bertugas di sebuah rumah sakit di Yogyakarta pada saat pemerintahan Hindia Belanda.

Radjiman Wedyodiningrat adalah seorang dokter sekaligus tokoh pergerakan. Perannya sangat menonjol menjelang kemerdekaan Indonesia. Khususnya ketika bangsa Indonesia sedang merumuskan dasar negara yang akhirnya disebut Pancasila.
       
Pahlawan Nasional
Atas berbagai jasanya dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dr Radjiman Wedyodiningrat banyak diusulkan oleh berbagai pihak untuk menjadi pahlawan nasional.

Peran dan jasanya dianggap setara dengan Bung Karno, Bung Hatta, Mohammad Yamin, dokter Wahidin Sudiro Husodo, HOS Cokroaminoto, dan sejumlah pahlawan nasional lainnya.

"Semangat perjuangan dan nilai kepatriotan yang ada pada diri Dr Radjiman Wedyodiningrat patut dijadikan panutan atau teladan bagi Indonesia terlebih generasi muda yang mulai kehilangan karakter bangsa. Seperti kata Bung Karno soal istilah "jasmerah" atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab, negara yang melupakan sejarah akan kehilangan arah," ujar Ketua Umum Komunitas Pawitandirogo (Warga Pacitan, Ngawi, Magetan, Madiun, dan Ponorogo), Parni Hadi,

Parni mengatakan hal itu ketika menjadi narasumber dalam acara sarasehan dan dialog dengan mengambil topik "Membangun Potensi Daerah Dengan Menghargai Perjuangan Dr Radjiman Wedyodiningrat" yang digelar oleh Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Madiun di Kanjengan, baru-baru ini.

Menurut Parni, usulan Komunitas Pawitandirogo kepada pemerintah pusat untuk menjadikan dr Radjiman Wedyodiningrat menjadi pahlawan nasional sudah tidak perlu bukti lagi. Jasa yang diberikan Radjiman bagi kemajuan bangsa sudah cukup banyak dan dirasakan oleh masyarakat.

Berdasarkan berbagai sumber, dalam perjalanan sejarah menuju kemerdekaan Indonesia, dr Radjiman adalah satu-satunya orang yang terlibat secara akif dalam kancah perjuangan bangsa yang dimulai dari munculnya Boedi Utomo sampai pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKl).

Puncak peranannya terjadi ketika dr Radjiman menjadi ketua BPUPKl menjelang kemerdekaan Indonesia. Setelah terdesak dalam medan pertempuran di Pasifik, Jepang membentuk BPUPKl di Jawa pada akhir Mei 1945, dan menunjuk dr Radjiman sebagai ketuanya.

Sebagai ketua BPUPKI, Radjiman pernah menanyakan tentang dasar negara saat Indonesia merdeka, maka Bung Karno mengenalkan uraian tetang Pancasila. Uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia diyakini pernah ditulis oleh Radjiman dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.

Pada awal kemerdekaan, Radjiman juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Dalam perkembangannya, seluruh badan perwakilan, baik yang didirikan RI maupun Belanda digabung dalam DPR-RI. Sebagai anggota tertua, Radjiman mendapat kehormatan memimpin rapat pertama lembaga itu.        

Selama tahun 1950-1952 Radjiman menjadi anggota DPR di Jakarta. Walaupun telah berusia lanjut, pikirannya masih aktif sehingga diangkat sebagai tokoh sesepuh dan Bapak Lansia Indonesia.

Secara umum, Radjiman selain dikenal sebagai tokoh perjuangan juga merupakan dokter yang sangat peduli akan kesehatan masyarakat terutama mereka yang tidak mampu. Sehingga beliau juga disebut sebagai dokter rakyat.

Hidup dr Radjiman juga banyak diabdikan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga di wilayah Dirgo, Wododaren, Ngawi. Pejuang ini juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi.

"Terlebih peran beliau dalam memberdayakan dukun bayi di wilayah Ngawi. Tujuannya hanya satu, yakni mencegah kematian ibu melahirkan dan bayi lahir," ujar cucu dr Radjiman, R Retnowidowati Subaryo saat berkunjung ke Ngawi.

Radjiman juga mengajar anak-anak di Dusun Dirgo yang tidak bisa mengenyam pendidikan karena tidak adanya sekolah waktu itu. Di lokasi tempatnya mengajar waktu lalu telah dibangun sekolah dasar dan hingga kini masih bertahan. Yakni SD Negeri 3,4,5 Kauman.

Akhirnya, pada tanggal 20 September 1952 Radjiman wafat di Dirgo, Widodaren, Ngawi. Jenazahnya dimakamkan di Desa Mlati, Sleman, Yogyakarta, berdekatan dengan makam dr Wahidin Sudiro Husodo yang telah membesarkannya.

Menanggapi dukungan dan usulan masyarakat untuk menjadi pahlawan nasional, Retnowidowati Subaryo mengatakan, Radjiman pernah berwasiat agar jangan pernah meminta suatu apa pun kepada pemerintah atau negara.

"Pesan kakek adalah kami tidak akan pernah boleh minta sesuatu dari negeri ini. Namun, jika masyarakat memang menghendaki dan mendukung untuk menjadi pahlawan nasional, tentu keluarga sangat berterima kasih dan bangga," kata Retnowidowati.
  
Wisata Sejarah
Selain usulan dan dukungan untuk menjadi pahlawan nasional, Kanjengan tempat kediaman dr Radjiman di Dirgo, Ngawi, juga dijadikan sebagai situs sejarah. Keberadaan Kanjengan dinilai semakin memperkaya potensi wisata sejarah yang berada di Kabupaten Ngawi, selain Museum Trinil dan Benteng Pendem.

Jauh hari sebelum direnovasi dan dijadikan situs sejarah, Kanjengan telah sering didatangi oleh pengunjung yang ingin mengenal sosok dr Radjiman lebih jauh.

"Kebanyakan yang datang adalah anak-anak sekolah dan mahasiswa. Mereka datang untuk belajar sejarah tentang peranan dr Radjiman bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia," ujar Juru Kunci Kanjengan, Sagimin.

Sementara, Bupati Ngawi Budi Sulistyono menyatakan, gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Radjiman Wedyodiningrat, nantinya akan semakin mendorong rencana Pemkab Ngawi untuk menjadikan Situs Rumah Kediaman Radjiman Wedyodiningrat sebagai bagian dari "trading tourism investment" yang saat ini mulai dikembangkan.

"Kediaman Radjiman akan menjadi satu rangkaian dari sejumlah tempat sejarah lainnya yang ada di Ngawi untuk pengembangan pariwisata. Potensi daerah berupa tempat bersejarah yang ada di Ngawi lainnya di antaranya adalah Museum Trinil dan Benteng Pendem Ngawi," ucap Bupati.

Pihaknya juga merasa bangga jika wilayah Ngawi memiliki tokoh besar yang layak dijadikan sebagai pahlawan nasional. Karena itu, ia akan mendukung 100 persen.

"Kami sangat mendukung dengan usulan Dr Radjiman Wedyodiningrat menjadi pahlawan nasional. Usulan tersebut diharapkan mampu menjadi daya ungkit untuk pengembangan parwisata sejarah di wilayah Ngawi," kata Kanang, sapaan akrab Budi Sulistyono.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, saat ini akan mengembangkan potensi pariwisata yang ada di wilayahnya dengan konsep jalur "Jatipangawitan". Adapun Jatipangawitan merupakan singkatan nama sejumlah daerah di Ngawi yang membentang dari Karangjati hingga Mantingan sepanjang 75 kilometer. Yakni, Karangjati, Padas, Ngawi, Widodaren, dan Mantingan.

Di daerah-daerah tersebut terdapat sejumlah tempat wisata sejarah yang akan dikembangkan untuk meningkatkan kujungan wisatawan ke Kabupaten Ngawi. Seperti, Benteng Pendem di Ngawi Kota, Situs Trinil dan Monumen Suryo di Kedunggalar, serta Situs Radjiman Wedyodiningrat di Widodaren.

Bersama pemerintah pusat, Pemkab Ngawi akan melakukan berbagai perbaikan guna mendukung wisata sejarah di Situs Rumah Kediaman Radjiman Wedyodiningrat. Di antaranya dengan perbaikan jalan menuju kediaman Radjiman.

"Semuanya akan dilakukan bertahap dan berkoordinasi dengan pihak keluarga. Hal ini karena bangunan Kanjengan dan kawasannya merupakan milik keluarga," tutur Kanang. (ANT-pso-072*C004/H-KWR)

Editor: Awi
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar