Palembang, (ANTARA News) - Rektor Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Profesor H Aflatun Muchtar mengatakan, sekarang ini nilai gotong royong masyarakat dan bangsa Indonesia sudah menurun.

Bahkan karakter Indonesia yang sering disebut sebagai bangsa religius, ramah dan toleran boleh dikatakan juga sudah berkurang, kata Aflatun saat berbicara dalam Musyawarah Besar V Forum Pondok Pesantren se-Sumsel di Palembang, Kamis.

Rektor IAIN Raden Fatah itu dalam pengarahannya mengangkat thema "Optimalisasi peran pondok pesantren dalam pembinaan umat dan pembangunan bangsa".

Lebih lanjut dia mengatakan, hal itu terjadi kemungkinan akibat belum siapnya negara dan bangsa menghadapi arus globalisasi.

Menurut dia, pertanyaan mendasar dari mana krisis dan rapuhnya karakter bangsa itu bersumber.

Hal ini kemungkinan pendidikan dalam membentuk dan menciptakan peradaban manusia belum maksimal, katanya.

Di samping itu, kata dia, penanaman nilai-nilai kemanusiaan dan lainnya sebagai tujuan pendidikan mengalami proses perubahan.

Pendidikan di negeri ini, lagi lagi dalam banyak fakta bukan dalam kerangka idealitas dan konseptual, tetapi lebih mengutamakan tuntutan formalisme dan prosedur belaka.

Pendidikan di negeri ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan praktis, individualis, berjangka pendek, mencari kerja dan kepentingan materi, ujar dia.

Dikatakannya, dalam membenahi permasalahan tersebut khususnya dalam pendidikan, pondok pesantren tepat untuk dijadikan sebuah model pembentukan karakter bangsa.

Pesantren sebagai tempat pendidikan agama memiliki basis sosial yang jelas, karena keberadaannya menyatu dengan masyarakat, ujar dia pula.

Menurut dia, pada umumnya pesantren hidup dari, oleh dan untuk masyarakat.

Namun, lanjut dia, harapan kepada dunia pesantren bukan tidak ada kendala, karena sebagai sebuah institusi yang hidup dan berkembang organisasi itu memliliki berbagai tantangan.

Pendiri Forum Pondok Pesantren Sumsel, H Kafrawi Rachim mengatakan, pondok pesantren jangan sekali-kali berpolitik karena itu bisa menghambat kesatuan.

Pondok pesantren boleh saja membantu pemerintah dalam pembangunan, tetapi tidak berpolitik, kata Kafrawi yang juga mantan Bupati Lahat tersebut. (ANT-U005)

Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar